Sabtu, 17 November 2018
SYARAT PERIZINAN

Perizinan Khusus

  • Sesuai UU 23 Tahun 2007, Penjelasan Pasal 5: 

Perkeretaapian khusus adalah perkeretaapian yang hanya digunakan untuk menunjang kegiatan pokok badan usaha tertentu dan tidak digunakan untuk melayani masyarakat umum. 

 

Prinsip Penyelenggaraan Perkeretaapian Khusus

Penyelenggaraan perkeretaapian khusus dilakukan oleh badan usaha untuk menunjang kegiatan pokoknya.

Dengan wilayah kegiatan usaha pokok (Sesuai PP No. 56/2009 Pasal 350) adalah sebagai berikut:

(1)  Perkeretaapian khusus diselenggarakan terbatas dalam kawasan yang merupakan wilayah kegiatan pokok badan usaha.

(2)  Dalam hal terdapat wilayah penunjang di luar kawasan kegiatan pokoknya, penyelenggaraan perkeretaapian khusus hanya dapat dilakukan dari kawasan kegiatan pokok ke satu titik di wilayah penunjang.

 

  • Tahap Perizinan (Sesuai Pasal 350): 

Badan usaha yang menyelenggarakan perkeretaapian khusus wajib memiliki:

a.izin pembangunan; dan

b.izin operasi.

 

Kegiatan Pokok 

(1) Penyelenggaraan digunakan untuk kepentingan sendiri dalam rangka untuk menunjang kegiatan pokoknya atau digunakan oleh beberapa perusahaan yang berafiliasi untuk menunjang kegiatan pokok yang sejenis dan tidak digunakan untuk melayani masyarakat umum.

(2)  Kegiatan pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas kegiatan:

  1. pertambangan;
  2. perkebunan;
  3. pertanian; atau
  4. pariwisata.

Penyelenggaraan dapat dilakukan oleh:

  1. Badan usaha yang memiliki kegiatan pokok;
  2. Badan usaha yang berafiliasi dengan perusahaan yang memiliki kegiatan pokok dengan persyaratan tertentu; atau
  3. Badan usaha yang berafiliasi dengan perusahaan yang tidak memiliki kegiatan pokok dengan persyaratan tertentu. 

 

Wilayah Penunjang diluar Kawasan

(1)   Dalam hal terdapat wilayah penunjang di luar kawasan kegiatan pokoknya, batasan wilayah operasi perkeretaapian khusus hanya dapat dilakukan dari kawasan kegiatan pokok ke satu titik di wilayah penunjang.

(2)   Wilayah penunjang di luar kawasan kegiatan pokok badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:

  1. terminal khusus;
  2. terminal untuk kepentingan sendiri;
  3. bandar udara khusus;
  4. pergudangan;
  5. lapangan penumpukan;
  6. pabrik pengolahan; atau
  7. wilayah tertentu di daratan yang berfungsi sebagai pelabuhan/dryport.